Jumat, 06 Januari 2012

laporan selama menjadi account officer

Perjuangan saya selama mencari nasabah dalam beberapa minggu terakhir ini,ada kesan yang tidak pernah bisa di lupakan,gimana cara saya untuk membujuk seseorang supaya mereka ingin bergabung di baitul qiradt begitu sulit,namun saya tidak lepas dr semngat untuk selalu berjuang,dan tidak lepas dari senyuman,saya terus berusaha,menghadapi masyarakat dengan selalu ramah.

dalam mencari nasabah tidaklah mudah,karena memerlukan,percaya diri yang kuat,bisa menjelaskan apa itu baitul qiradt,,,,tapi saya suka dengan tugas yang begitu luarbiasa menantang buat saya,dan ini pengalaman yang begitu menyenangkn,karena ada sulit,senang,dan kita bisa mengetahui gimana sikap masyarakat yang berbeda2...

Alhamdulillah,saya telah mendapatkan 6orang nasabah, berikut nama nasabah-nasabah tersebut:
1.sahara rotana Jenis Tabungan: Mizan Tamita, Saldo Awal: Rp 10.000
2. aiyub, Jenis Tabungan: Mizan Tamita, Saldo Awal: Rp 10.000
3. uzlif, Jenis Tabungan: Mizan Tamita, Saldo Awal: Rp 10.000
4.elviana florida saragi Jenis Tabungan: Mizan Tadidik, Saldo Awal: Rp 10.000
5. syifaturrahmah, Jenis Tabungan: Mizan Tamita, Saldo , Saldo Awal: Rp 10.000
6.lisa nansadiqa Jenis Tabungan: Mizan Tamita, Saldo Awal: Rp 10.000
Data mengenai nasabah-nasabah diatas, telah di approve oleh, BQ Darul Mizan.

Selain mendapatkan sedikit kesulitan, yang salah satunya adalah sering ditolak oleh calon-calon nasabah tersebut, namun disini saya mendapatkan suatu pelajaran berharga, bahwasannya ketika kita mau dan ingin untuk berusaha, insyaallah, kita bisa menyelesaikan hal yang kita anggap sulit sekalipun. selalu ada jalan, untuk bisa berhasil, jadi jangan pesimis dan patah semangat, karena semuanya tergantung pada diri kita masing-masing

Demikianlah, laporan saya selama menjadi Account Officer, semoga saja, ilmu yang saya dapatkan dari tugas tersebut, bisa bermanfaat bagi saya kelak, amin.

saatnya membangun ekonomi kredit dengan limbah lokal


TIDAK ada yang pernah menyangka jika rumput dapat disulap menjadi wayang, atau bambu bisa berubah menjadi sepeda. Ide-ide yang tidak pernah terpikirkan oleh orang kebanyakan ini, sekarang menjadi usaha yang mulai tumbuh subur di Indonesia. Hebatnya, ide tersebut bukan lahir dari para pengusaha besar, tetapi dari para pemuda kreatif yang berkutat dengan limbah.      Ide mengutak-atik limbah itu telah melahirkan berbagai produk kreatif di Indonesia, mulai dari alat musik, furnitur, fashion, dan berbagai seni kriya lainnya. Para pemuda kreatif ini bermodalkan ide segar yang dibentuk dengan sentuhan seni menghasilkan karya yang banyak terinspirasi oleh budaya daerah. Ide-ide segar ini pun mencuatkan aliran bisnis baru di Indonesia yaitu bisnis kreatif. Ide menjadi bahan baku utama bisnis ini. Kita ditantang untuk berfikir berbeda dari orang lain. Kita ditantang untuk berinovasi, menemukan hal-hal baru yang belum pernah ada. Sementara, banyak orang memiliki modal, tetapi tidak memiliki ide. Modal tidak akan berarti apa-apa. Sebaliknya, memiliki ide namun tidak memiliki modal tidak menjadi masalah pada bisnis kreatif. Sebab, bidang usaha ini tidak memerlukan banyak modal selama dapat memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita.
Produk kreatif adalah buah dari perpaduan antara ide, seni, dan budaya. Ide sarat inovasi ini lahir menjadi sebuah produk yang bernilai seni. Produknya memiliki karakter tersendiri yaitu unik, berbeda dari produk pada umumnya, serta memiliki ciri khas daerah tertentu. Sebab, produk kreatif memang memanfaatkan beragam kearifan lokal yang berbeda di tiap daerah Nusantara. Kearifan lokal yang menjadi modal bisnis kreatif tersebut adalah limbah lokal. Produk dari limbah lokal pada akhirnya justru mampu mewakili karakter budaya daerah setempat. Enceng gondok disulap menjadi tikar, karung menjadi tas, kertas menjadi alat musik, dan kaleng menjadi dekorasi rumah. Beberapa contoh kecil ini merupakan upaya menyulap sampah menjadi bernilai. Disadari atau tidak, limbah yang mulanya hanya sampah di Indonesia, kini menjadi harta karun. Tanpa sentuhan ide kreatif dan inovatif, harta karun pun hanya akan terpendam.
Jember Fashion Week dapat dikatakan sebagai ‘pesta limbah’. Anak muda Jember dengan cerdik menyulap kertas, kain perca, plastik, kertas tisu, bahkan kaleng minuman menjadi pakaian yang unik. Melalui ide brilian anak muda Jember ini, barang yang mulanya adalah sampah berubah menjadi barang bernilai seni dan guna. Jember Fashion Week pun banyak menarik perhatian wisatawan dan akhirnya mampu mengerakkan ekonomi Jember.
Seperti halnya Jember, tiap daerah di Indonesia memiliki potensi dari limbah yang berbeda-beda. Hal ini berkaitan dengan keunikan budaya masyarakat di tiap daerahnya. Budaya Jawa akan berbeda dengan Sumatra, Kalimantan, hingga Papua.
Banyumas misalnya, memiliki limbah khas yaitu ‘Bandhol’ atau limbah dari ban mobil dan truk. ‘Bandhol’ ini kemudian disulap menjadi tas, sandal, kursi santai hingga meja. Sandal ‘Bandhol’ umumnya digunakan oleh para pemain kesenian khas Banyumas yaitu kenthongan. Usaha ‘Bandhol’ pun kini menjadi salah satu produk kerajinan yang dipromosikan dalam pariwisata Banyumas. Tak ayal lagi, produk kreatif telah berhasil mengangkat budaya daerah. Kini, Jember dikenal sebagai kiblat fashion kreatif di Indonesia, bahkan di dunia internasional. Daerah lain juga mulai tumbuh dengan berbagai produk andalannya. Dari Sabang sampai Merauke berlomba mengangkat daerahnya melalui produk kreatif. Tak hanya budaya, ekonomi masyarakat pun ikut terangkat.
Ide-ide inovatif ini telah melahirkan banyak usaha kecil yang mandiri. Perlahan tapi pasti, usaha tersebut mampu bertahan dan produknya pun bersaing di pasar.
Dalam lima tahun terakhir, produk kreatif telah menciptakan pasar tersendiri di Indonesia. Dunia usaha mulai melirik hal-hal yang berbau unik. Preferensi konsumsi di Indonesia kini telah melirik produk kreatif. Konsumen semakin mencari produk-produk hasil inovasi yang lain dari biasanya. Produk kreatif pun mulai banyak dikirim ke berbagai negara dan diminati pasar luar negeri. Usaha-usaha kecil ini perlahan membangun sebuah iklim usaha kerakyatan yang kuat. Kementerian Perekonomian bahkan membuat Sub Ekonomi Kreatif. Hal ini menjadi bukti pemerintah menaruh fokus lebih pada upaya penumbuhan bisnis kreatif. Sebab, bisnis kreatif yang tumbuh melalui usaha-usaha kecil ini lebih kuat dan padat karya.
  Dapat diibaratkan, seratus unit bisnis kreatif skala kecil dengan lima orang pegawai di setiap usahanya, akan lebih baik daripada satu unit perusahaan dengan 500 orang pegawainya. Bayangkan, jika satu perusahaan ini bangkrut, maka akan tercipta 500 orang pengangguran. Sedangkan jika satu bisnis kreatif skala kecil bangkrut, hanya lima orang yang menganggur. Bagi anak muda kreatif, hal ini tidaklah sulit untuk dilakukan. Yang perlu diasah adalah mental entrepreneur atau wirausaha. Mahasiswa yang masih kuliah, baru lulus, hingga anak putus sekolah pun dapat menciptakan bisnis kreatif. Harus ditumbuhkan semangat untuk mandiri, kemampuan melihat potensi, dan tidak takut rugi. Modal yang selama ini menjadi persoalan banyak usaha kecil, kini semakin dipermudah aksesnya oleh pemerintah melalui berbagai kredit dan hibah.
Ujung tombak tumbuhnya bisnis kreatif ada di pundak generasi muda. Kuncinya, daya cipta, inovasi, dan kreativitas lebih yang mereka miliki. Tak heran,  banyak bisnis kreatif dimotori oleh anak muda. Pada dasarnya, setiap orang dapat melahirkan produk kreatif asalkan dapat memutar otak mencari ide segar dari hal-hal kecil yang ada di sekitarnya. Selain menciptakan usaha juga dapat melestarikan budaya daerah.
Siapa pun ternyata bisa melahirkan bisnis kreatif. Lihat lingkungan sekitar kita yang ternyata kaya akan potensi usaha kreatif. Limbah pun akhirnya menjadi anugerah. Selamat menyulap limbah !

Selasa, 03 Januari 2012

kemiskinan di aceh 2011


          Persentase penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Aceh pada tahun 2011 sebesar 19,57 persen. Angka ini menurun dibandingkan dengan tahun 2010 yang sebesar 20,98 persen. Penurunan persentase penduduk miskin tersebut terjadi di daerah perkotaan dan perdesaan.
          Pada periode 2010 - 2011, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.
   
Strategi Penaggulangan kemiskinan di aceh   
   
Kemiskinan merupakan permasalahan bangsa yang mendesak dan memerlukan langkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistemik, terpadu dan menyeluruh. Dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar warga negara, diperlukan langkah­ langkah strategis dan komprehensif.
Penanggulangan kemiskinan yang komprehensif memerlukan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha (sektor swata) dan masyarakat merupakan pihak-pihak yang memiliki tanggungjawab sama terhadap penanggulangan kemiskinan. Pemerintah telah melaksanakan penanggulangan kemiskinan melalui berbagai program dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar warga negara secara layak, meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat miskin, penguatan kelembagaan sosial ekonomi masyarakat serta melaksanakan percepatan pembangunan daerah tertinggal dalam upaya mencapai masyarakat Indonesia yang sejahtera, demokratis dan berkeadilan.
Namun keseluruhan upaya tersebut belum maksimal jika tanpa dukungan dari para pemangku kepentingan lainnya. Untuk menunjang penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan mewujudkan percepatan penanggulangan kemiskinan dirumuskan empat startegi utama. Strategi-strategi penanggulangan kemiskinan tersebut diantaranya:
  1. Memperbaiki program perlindungan sosial;
  2. Meningkatkan akses terhadap pelayanan dasar;
  3. Pemberdayaan kelompok masyarakat miskin; serta
  4. Menciptakan pembangunan yang inklusif.

    kajian ekonomi provinsi aceh 2011

    Pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas tercatat sebesar 5,03% (yoy), atau mengalami perlambatan dibanding triwulan lalu yang sebesar 5,47% (yoy). Sementara itu, bila ditilik secara triwulanan, ekonomi Aceh dengan migas tercatat tumbuh sebesar 1,43% (qtq), meningkat dibanding triwulan lalu yang sebesar 1,32% (qtq). Secara sektoral, seluruh sektor ekonomi tercatat mengalami pertumbuhan tahunan yang positif meski disana sini terlihat stagnan dan cenderung melambat bila dibandingkan dengan triwulan lalu. Sektor Pertanian sebagai kontributor terbesar pada PDRB Aceh juga tumbuh moderat sebesar 4,36% (yoy) atau tumbuh melambat sebesar 0,94% secara triwulanan (qtq) karena masih musim tanam.
    Sementara dari sisi penggunaan, pertumbuhan positif juga terjadi di seluruh komponen. Selama triwulan III-2011, inflasi tahunan Aceh kembali melonjak. Menurut Berita Resmi Statistik (BRS) inflasi yang dirilis oleh BPS Aceh, inflasi tahunan Aceh berturut-turut adalah sebesar 5,16%; 6,94% dan 6,98%. Tekanan inflasi terutama disebabkan oleh kenaikan harga sandang (pakaian dan lain-lain), emas perhiasan, beras, ikan-ikanan segar dan cabe merah. Penyebab utama kenaikan harga adalah event Ramadhan dan Idul Fitri, dimana terjadi peningkatan permintaan yang meski pasokan memadai tetap menjadi momen yang dimanfaatkan untuk menaikkan harga. Kenaikan harga beras lebih disebabkan oleh mulainya musim tanam padi. Sementara kenaikan harga emas perhiasan dipengaruhi oleh lonjakan harga emas dunia.
    Kinerja perbankan Aceh pada triwulan III-2011 cukup baik. Trending indikator pokok masih menunjukkan pertumbuhan positif kendati mengalami perlambatan. Kinerja perbankan syariah di Aceh menunjukkan pertumbuhan positif cenderung flat, baik secara tahunan (yoy) maupun triwulanan (qtq). Peningkatan asset semakin mempertinggi potensi bank syariah dalam melakukan ekspansi pembiayaan terutama sebagai stimulasi perekonomian masyarakat Aceh.
    Refinancing risk lebih terekspos pada perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional terutama terkait dengan spread yang terbentuk dari penhimpunan DPK dan tingkat LDR. Transaksi pembayaran non tunai hingga akhir triwulan III-2011 dengan menggunakan sistem BI-RTGS mengalami penurunan terbatas, sedangkan transaksi melalui kliring mengalami peningkatan signifikan, baik secara nominal maupun volume. Triwulan III-2011, aliran uang kartal masih menunjukkan net outflow seiring dengan pola uptrend menuju penghujung tahun pada satu periode seiring dengan meningkatnya kebutuhan kartal masyarakat. Realisasi APBA hingga triwulan III tahun 2011 baru mencapai 49,45% atau sebesar Rp3,94T dari total pagu anggaran sebesar Rp7,97T.
    Kepastian situasi politik dan keamanan tetap menjadi faktor utama terhadap kelangsungan berjalannya pembangunan. Kondisi Ketenagakerjaan terus menunjukkan perbaikan. Pada bulan Februari 2011, TPT Aceh tercatat 8,27%, sementara TPAK juga menunjukkan peningkatan menjadi 66,63%. Menurut lapangan pekerjaan utama, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, dimana jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor ini mencapai 903,4 ribu jiwa.
    Sementara menurut status pekerjaan utama, tenaga kerja masih didominasi oleh tenaga kerja berstatus buruh/ karyawan (30,27). Tingkat kemiskinan di Aceh terus menunjukkan penurunan. Dari 20,98% pada Maret 2010 menjadi 19,57% pada Maret 2011. Meski demikian, angka ini masih jauh diatas nasional yang sebesar 12,49%. Kualitas kemiskinan Aceh juga membaik yang ditunjukkan oleh Indeks Kedalaman Kemiskinan sebesar 3,5 dan Indeks Keparahan Kemiskinan sebesar 0,94 pada Maret 2011.
    Pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan III-2011 diperkirakan tumbuh melambat di kisaran 4,82%±1% (yoy) akibat kejar target realisasi proyek-proyek Pemerintah. Tidak adanya perayaan keagamaan yang bisa menjadi stimulus konsumsi, yang berbarengan dengan jatuhnya musim panen gadu diperkirakan akan melonggarkan tekanan inflasi Aceh, meski masih tetap ada potensi kenaikan harga cabe merah dan ikan segar, maka pada triwulan IV-2011 inflasi Aceh diperkirakan akan berada di kisaran 4,6%±1% (yoy) dengan kecenderungan mencapai batas bawah.


Senin, 02 Januari 2012

KESIMPULAN DARI MASRI KOSTO

kesimpulannya:kalau ada kemauan pasti ada jalannya keluarnya,dia seorang petani yang hanya tamat SD,dia memikirkan suatu cara bagaimana agar uang bisa diputar untuk bisa menjadi modal selanjutnya,akhirnya dibuat sebuah LKM yang bisa bergerak dibidang agrobosnis.
cara menagihnya apabila tidak membayar akan diumumkan dimesjid,disita alat-alat dapurnya sehingga menimbulkan keributan sampai dia malu,akadnya dibuat di mesjid bapak tersbut membangun sebuah lembaga di bidang pertanian karena perbankan tidak atau jarang membantu bidang pertanian,awalnya binguyng mau bangun lembaga seperti apa?kalau koperasi masyarakat tidak mau diterima,Akhirnya di bangun LKMA dengan sistem saham,karena semangat yang luar biasa ingin menciptakan perubahan,terbentuklah 300 unit LKMA,ini adalah bentuk kepedulian,dan ini berkat kemauan dia untuk mengururs dan memikirkan nasib petani lain.

Jumat, 21 Oktober 2011

TINGKAT KEMISKINAN DI ACEH....

Menurut angka resmi, tingkat kemiskinan secara keseluruhan di Aceh pada tahun 2004 – yaitu 28,4 persen
– jauh lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan nasional Indonesia,
sebesar 16,7 persen Angka ini juga lebih tinggi daripada provinsi tetangga, Sumatera Utara, yang tingkat kemiskinannya relatif rendah sebesar 14,9 persen,Pada tahun 2004 angka kemiskinan di Aceh mencapai 17,6 persen di perkotaan dan 32,6 persen di pedesaan,Meskipun laporan ini memusatkan perhatian pada dampak langsung tsunami terhadap kemiskinan, tingginya angka kemiskinan di Aceh sejak sebelum tsunami memperlihatkan tantangan bagi Pemerintah Aceh dalam membuat kebijakan.

TEMUAN-TWNUAN TINGKAT KEMISKINAN DI ACEH
• Tingkat kemiskinan di Aceh sebelum tsunami, sebesar 28.4 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2004, jauh lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan nasional Indonesia sebesar 16,7 persen  Kemiskinan di Aceh meningkat pasca bencana tsunami mencapai 32,6 persen Tingkat kemiskinan turun di bawah angka sebelum tsunami menjadi 26,5 persen pada tahun 2006, disebabkan adanya kegiatan rekonstruksi dan berakhirnya konflik.

• Peningkatan angka kemiskinan yang kecil setelah tsunami disertai dengan heterogenitas mendasar antar
berbagai daerah di Aceh Wilayah yang terkena dampak tsunami memang mengalami peningkatan angka kemiskinan, namun pada tahun 2006 angka ini kembali ke tingkat sebelum tsunami, atau bahkan lebih kecil Kemampuan untuk memperlancar konsumsi melalui penggunaan tabungan jelas membantu keluarga-keluarga tertentu melalui masa transisi yang sulit, sama halnya dengan penerima bantuan  Kemiskinan di wilayah konfl ik tetap tinggi selama periode ini namun juga mengalami penurunan yang signifi kan di tahun 2006

• Jumlah penduduk rentan di Aceh amat tinggi, sehingga goncangan sekecil apapun dapat menyebabkan mereka jatuh miskin Di sisi lain, banyak orang yang hidup hanya di bawah garis kemiskinan sehingga intervensi tepat sasaran atau pertumbuhan berbasis luas dapat dengan cepat mengurangi jumlah penduduk miskin.

 • Kemiskinan di Aceh umumnya merupakan fenomena di pedesaan, dengan sekitar 30 persen keluarga di wilayah pedesaan hidup di bawah garis kemiskinan dibandingkan dengan kurang dari 15 persen di wilayah perkotaan. Secara geografIs, wilayah yang terletak dekat Banda Aceh memiliki tingkat kemiskinan yang rendah, sementara daerah-daerah di wilayah tengah dan selatan Aceh menunjukkan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi Rendahnya tingkat pendidikan serta pertanian sebagai kegiatan utama keluarga juga terkait secara positif dengan kemiskinan.

• Ada dua kelompok rentan di Aceh yang saling tumpang tindih namun sesungguhnya berbeda: kelompok yang ‘miskin secara struktural’ dan kelompok yang ‘terguncang’ oleh tsunami, yang kehilangan harta benda pribadi. Banyak dari kelompok ‘terguncang’ memiliki kapasitas produktif tertentu, misalnya tingkat pendidikan, yang tidak dimiliki oleh kelompok yang ‘miskin secara struktural Mengingat tipologi ini serta keterbatasan dana publik yang dapat digunakan untuk mengurangi kemiskinan menyebabkan Aceh saat ini harus memikirkan investasi publik yang akan memberikan hasil paling besar dalam upaya  kemiskinan tersebut Kelompok ‘terguncang’ akan amat terbantu melalui upaya rehabilitasi aset yang hilang dan percepatan proses yang memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan kembali Membantu kelompok yang ‘miskin secara struktural’ memerlukan intervensi yang berbeda — yaitu intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi (misalnya tenaga kerja, aset fi sik).

Bencana tsunami menyebabkan peningkatan kemiskinan yang relatif kecil di Aceh.
  Antara tahun 2004 sampai tahun 2005, kemiskinan di Aceh sedikit meningkat baik di wilayah perkotaan maupun di wilayah pedesaan, yaitu dari 17,6 persen menjadi 20,4 persen di perkotaan dan dari 32,6 persen menjadi 36,2 persen di daerah pedesaan Kenaikan angka kemiskinan tersebut secara statistik signifi kan pada tingkat konvensional. Kenaikan ini terjadi tingkat kemiskinan di seluruh Indonesia turun dari 16,7 persen di tahun 2004 menjadi 16,0 persen di tahun 2005. Karena kedua survei Susenas dilaksanakan pada bulan Februari 2004 dan Desember 2005, perbandingan tingkat kemiskinan ini terkait dengan masa 10 bulan sebelum terjadinya tsunami sampai dengan masa satu tahun setelah tsunami. Karena adanya kekurangan ini, perbandingan tersebut mungkin tidak menangkap dinamika-dinamika penting jangka pendek dari angka kemiskinan dan khususnya kenaikan tajam angka kemiskinan yang berpotensi terjadi segera setelah bencana tsunami. Jika ada kenaikan, hal tersebut hanya bersifat sementara. Kenaikan angka kemiskinan yang relatif rendah di tahun 2005 mungkin mencerminkan efek positif dari pemulihan awal dan upaya rekonstruksi, serta kemampuan rumah tangga untuk memperlancar konsumsi melalui tabungan dan jaringan yang lebih luas ketika menghadapi guncangan pendapatan.

Dampak tsunami terhadap peningkatan tingkat kemiskinan tidak berlangsung lama  Dampak konfl ik terhadap kemiskinan juga terlihat menurun pada tahun 2006. Pemulihan rumah tangga di daerah-daerah yang terkena dampak tsunami terlihat sangat cepat – pada tahun 2006 tidak ada perbedaan yang signifi kan dalam kemungkinan timbulnya kemiskinan di daerah yang terkena dampak tsunami dibandingkan dengan daerah yang tidak terkena dampak tsunami. Dampak konfl ik terhadap tingkat kemiskinan juga sepertinya telah hilang pada tahun 2006. Pada tahun 2004, rumah tangga yang tinggal di daerah konfl ik memiliki kemungkinan 29 persen lebih besar untuk menjadi miskin. Perbedaan relatif ini meningkat menjadi 43 persen pada tahun 2005 namun menghilang pada tahun 2006, kemungkinan menandakan bahwa manfaat-manfaat dari berakhirnya konfl ik juga telah dirasakan di daerah-daerah tersebut Data konsumsi rata-rata per kapita juga turut mendukung temuan bahwa daerah yang Terkena konfl ik mulai pulih pada tahun 2006.
  
METODE PERKIRAAN KEMISKINAN
Terdapat selisih yang relatif kecil antara perkiraan kemiskinan di Aceh di tahun 2005 dalam laporan ini (32,6 persen) dan perkiraan BPS (28,6 persen).8 Terdapat dua perbedaan utama dalam metodologi yang menjelaskan bahwa selisih tersebut terkait dengan (i) data yang digunakan dalam analisis dan selisih yang diakibatkan dalam kelompok barang makanan dan non-makanan yang digunakan untuk memperkirakan konsumsi, dan (ii) indeks harga yang dipakai untuk menghitung konsumsi. Yang pertama dan yang paling penting, perkiraan kemiskinan dalam laporan ini didasarkan pada data inti Susenas dan tidak menggunakan modul konsumsi yang digunakan oleh BPS untuk memperkirakan kemiskinan pada tahun 2005 Laporan ini menggunakan informasi konsumsi yang tidak terlalu terperinci dari data inti Susenas untuk memungkinkan perkiraan kemiskinan yang konsisten dengan tingkat kesejahteraan kemiskinan untuk periode tahun 2004- 2006, sedangkan modul konsumsi Susenas hanya tersedia untuk satu tahun saja, yaitu 2005. Yang kedua, untuk memperkirakan indeks harga, BPS menggunakan nilai-nilai satuan dari modul konsumsi Susenas untuk 52 barang makanan dan 36 barang non-makanan Laporan ini menggunakan data infl asi yang diterbitkan oleh BPS untuk memperkirakan faktor defl ator, yang tertimbang dengan gabungan 19 barang makanan dannon-makanan. Sebagai tambahan, BPS juga mengembangkan perkiraan-perkiraan alternative lain mengenai jumlah “rumah tangga miskin” untuk distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dalam pendekatan ini, rumah tangga miskin ditentukan berdasarkan 14 kriteria yang dianggap sebagai indikator penting yang menentukan kemiskinan di Indonesia, seperti jenis perumahan, sumber-sumber energi yang digunakan, sumber air bersih, kepemilikan aset maupun tabungan, dll. Untuk informasi lebih lanjut tentang perkiraan kemiskinan oleh BPS dengan menggunakan Susenas dan Sensus Sosial Ekonomi, lihat Lampiran B5 mengenai metodologi. BPS menggunakan Sensus Sosial Ekonomi Dalam kerangka yang secara konsep berbeda tersebut, “rumah tangga-rumah tangga miskin” mencakup mereka yang sangat miskin, miskin, dan mendekati miskin. Dengan memasukkan ketiga kategori ini, tingkat kemiskinan di Aceh mencapai angka 49,85 persen pada tahun 2005 Pengukuran tersebut mencakup rumah tangga yang mendekati miskin, yang mana tidak dimasukkan dalam perkiraan kemiskinan menggunakan Susenas dalam laporan BPS maupun laporan ini. Dengan tidak memasukkan kategori mendekati miskin dan penggunaan Sensus Sosial Ekonomi oleh BPS menghasilkan perkiraan kemiskinan yang sangat serupa di Aceh untuk tahun 2005, yaitu 30,2 persen. Terdapat sejumlah besar penduduk yang termasuk di sekitar garis kemiskinan. Dengan menggunakan survei inti Susenas sebagaimana dalam laporan ini, garis kemiskinan yang sedikit lebih tinggi juga akan menghasilkan tingkat kemiskinan yang jauh lebih tinggi seperti yangdiperkirakan oleh BPS dengan  menggunakan Sensus Sosial ekonomi.






































































































































































































































Minggu, 09 Oktober 2011

1.6 Masa Depan perspektif
Kita mendefinisikan keuangan mikro sebagai penyediaan layanan keuangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah yang seharusnya dapat dikeluarkan dari sistem keuangan formal,Saya berharap bahwa ini definisi akan menjadi usang sesegera mungkin setelah komersialisasi penyediaan layanan semacam ini dan masuknya mereka ke dalam keuangan formal system1 Dengan itu keuangan mikro waktu, mengakses sumber daya yang terbatas tersedia dipasar modal, akan mencapai lebih banyak klien dan mudah-mudahan akan mengisi sekarang kesenjangan antara pasokan dan permintaan. Risiko memperoleh tujuan ini banyak tetapi ada banyak alasan untuk berharap Yang paling penting adalah bukti kemajuan yang industri, pada kecepatan meningkat, yang dibuat dalam 30 tahun terakhir.