Jumat, 21 Oktober 2011

TINGKAT KEMISKINAN DI ACEH....

Menurut angka resmi, tingkat kemiskinan secara keseluruhan di Aceh pada tahun 2004 – yaitu 28,4 persen
– jauh lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan nasional Indonesia,
sebesar 16,7 persen Angka ini juga lebih tinggi daripada provinsi tetangga, Sumatera Utara, yang tingkat kemiskinannya relatif rendah sebesar 14,9 persen,Pada tahun 2004 angka kemiskinan di Aceh mencapai 17,6 persen di perkotaan dan 32,6 persen di pedesaan,Meskipun laporan ini memusatkan perhatian pada dampak langsung tsunami terhadap kemiskinan, tingginya angka kemiskinan di Aceh sejak sebelum tsunami memperlihatkan tantangan bagi Pemerintah Aceh dalam membuat kebijakan.

TEMUAN-TWNUAN TINGKAT KEMISKINAN DI ACEH
• Tingkat kemiskinan di Aceh sebelum tsunami, sebesar 28.4 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2004, jauh lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan nasional Indonesia sebesar 16,7 persen  Kemiskinan di Aceh meningkat pasca bencana tsunami mencapai 32,6 persen Tingkat kemiskinan turun di bawah angka sebelum tsunami menjadi 26,5 persen pada tahun 2006, disebabkan adanya kegiatan rekonstruksi dan berakhirnya konflik.

• Peningkatan angka kemiskinan yang kecil setelah tsunami disertai dengan heterogenitas mendasar antar
berbagai daerah di Aceh Wilayah yang terkena dampak tsunami memang mengalami peningkatan angka kemiskinan, namun pada tahun 2006 angka ini kembali ke tingkat sebelum tsunami, atau bahkan lebih kecil Kemampuan untuk memperlancar konsumsi melalui penggunaan tabungan jelas membantu keluarga-keluarga tertentu melalui masa transisi yang sulit, sama halnya dengan penerima bantuan  Kemiskinan di wilayah konfl ik tetap tinggi selama periode ini namun juga mengalami penurunan yang signifi kan di tahun 2006

• Jumlah penduduk rentan di Aceh amat tinggi, sehingga goncangan sekecil apapun dapat menyebabkan mereka jatuh miskin Di sisi lain, banyak orang yang hidup hanya di bawah garis kemiskinan sehingga intervensi tepat sasaran atau pertumbuhan berbasis luas dapat dengan cepat mengurangi jumlah penduduk miskin.

 • Kemiskinan di Aceh umumnya merupakan fenomena di pedesaan, dengan sekitar 30 persen keluarga di wilayah pedesaan hidup di bawah garis kemiskinan dibandingkan dengan kurang dari 15 persen di wilayah perkotaan. Secara geografIs, wilayah yang terletak dekat Banda Aceh memiliki tingkat kemiskinan yang rendah, sementara daerah-daerah di wilayah tengah dan selatan Aceh menunjukkan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi Rendahnya tingkat pendidikan serta pertanian sebagai kegiatan utama keluarga juga terkait secara positif dengan kemiskinan.

• Ada dua kelompok rentan di Aceh yang saling tumpang tindih namun sesungguhnya berbeda: kelompok yang ‘miskin secara struktural’ dan kelompok yang ‘terguncang’ oleh tsunami, yang kehilangan harta benda pribadi. Banyak dari kelompok ‘terguncang’ memiliki kapasitas produktif tertentu, misalnya tingkat pendidikan, yang tidak dimiliki oleh kelompok yang ‘miskin secara struktural Mengingat tipologi ini serta keterbatasan dana publik yang dapat digunakan untuk mengurangi kemiskinan menyebabkan Aceh saat ini harus memikirkan investasi publik yang akan memberikan hasil paling besar dalam upaya  kemiskinan tersebut Kelompok ‘terguncang’ akan amat terbantu melalui upaya rehabilitasi aset yang hilang dan percepatan proses yang memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan kembali Membantu kelompok yang ‘miskin secara struktural’ memerlukan intervensi yang berbeda — yaitu intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi (misalnya tenaga kerja, aset fi sik).

Bencana tsunami menyebabkan peningkatan kemiskinan yang relatif kecil di Aceh.
  Antara tahun 2004 sampai tahun 2005, kemiskinan di Aceh sedikit meningkat baik di wilayah perkotaan maupun di wilayah pedesaan, yaitu dari 17,6 persen menjadi 20,4 persen di perkotaan dan dari 32,6 persen menjadi 36,2 persen di daerah pedesaan Kenaikan angka kemiskinan tersebut secara statistik signifi kan pada tingkat konvensional. Kenaikan ini terjadi tingkat kemiskinan di seluruh Indonesia turun dari 16,7 persen di tahun 2004 menjadi 16,0 persen di tahun 2005. Karena kedua survei Susenas dilaksanakan pada bulan Februari 2004 dan Desember 2005, perbandingan tingkat kemiskinan ini terkait dengan masa 10 bulan sebelum terjadinya tsunami sampai dengan masa satu tahun setelah tsunami. Karena adanya kekurangan ini, perbandingan tersebut mungkin tidak menangkap dinamika-dinamika penting jangka pendek dari angka kemiskinan dan khususnya kenaikan tajam angka kemiskinan yang berpotensi terjadi segera setelah bencana tsunami. Jika ada kenaikan, hal tersebut hanya bersifat sementara. Kenaikan angka kemiskinan yang relatif rendah di tahun 2005 mungkin mencerminkan efek positif dari pemulihan awal dan upaya rekonstruksi, serta kemampuan rumah tangga untuk memperlancar konsumsi melalui tabungan dan jaringan yang lebih luas ketika menghadapi guncangan pendapatan.

Dampak tsunami terhadap peningkatan tingkat kemiskinan tidak berlangsung lama  Dampak konfl ik terhadap kemiskinan juga terlihat menurun pada tahun 2006. Pemulihan rumah tangga di daerah-daerah yang terkena dampak tsunami terlihat sangat cepat – pada tahun 2006 tidak ada perbedaan yang signifi kan dalam kemungkinan timbulnya kemiskinan di daerah yang terkena dampak tsunami dibandingkan dengan daerah yang tidak terkena dampak tsunami. Dampak konfl ik terhadap tingkat kemiskinan juga sepertinya telah hilang pada tahun 2006. Pada tahun 2004, rumah tangga yang tinggal di daerah konfl ik memiliki kemungkinan 29 persen lebih besar untuk menjadi miskin. Perbedaan relatif ini meningkat menjadi 43 persen pada tahun 2005 namun menghilang pada tahun 2006, kemungkinan menandakan bahwa manfaat-manfaat dari berakhirnya konfl ik juga telah dirasakan di daerah-daerah tersebut Data konsumsi rata-rata per kapita juga turut mendukung temuan bahwa daerah yang Terkena konfl ik mulai pulih pada tahun 2006.
  
METODE PERKIRAAN KEMISKINAN
Terdapat selisih yang relatif kecil antara perkiraan kemiskinan di Aceh di tahun 2005 dalam laporan ini (32,6 persen) dan perkiraan BPS (28,6 persen).8 Terdapat dua perbedaan utama dalam metodologi yang menjelaskan bahwa selisih tersebut terkait dengan (i) data yang digunakan dalam analisis dan selisih yang diakibatkan dalam kelompok barang makanan dan non-makanan yang digunakan untuk memperkirakan konsumsi, dan (ii) indeks harga yang dipakai untuk menghitung konsumsi. Yang pertama dan yang paling penting, perkiraan kemiskinan dalam laporan ini didasarkan pada data inti Susenas dan tidak menggunakan modul konsumsi yang digunakan oleh BPS untuk memperkirakan kemiskinan pada tahun 2005 Laporan ini menggunakan informasi konsumsi yang tidak terlalu terperinci dari data inti Susenas untuk memungkinkan perkiraan kemiskinan yang konsisten dengan tingkat kesejahteraan kemiskinan untuk periode tahun 2004- 2006, sedangkan modul konsumsi Susenas hanya tersedia untuk satu tahun saja, yaitu 2005. Yang kedua, untuk memperkirakan indeks harga, BPS menggunakan nilai-nilai satuan dari modul konsumsi Susenas untuk 52 barang makanan dan 36 barang non-makanan Laporan ini menggunakan data infl asi yang diterbitkan oleh BPS untuk memperkirakan faktor defl ator, yang tertimbang dengan gabungan 19 barang makanan dannon-makanan. Sebagai tambahan, BPS juga mengembangkan perkiraan-perkiraan alternative lain mengenai jumlah “rumah tangga miskin” untuk distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dalam pendekatan ini, rumah tangga miskin ditentukan berdasarkan 14 kriteria yang dianggap sebagai indikator penting yang menentukan kemiskinan di Indonesia, seperti jenis perumahan, sumber-sumber energi yang digunakan, sumber air bersih, kepemilikan aset maupun tabungan, dll. Untuk informasi lebih lanjut tentang perkiraan kemiskinan oleh BPS dengan menggunakan Susenas dan Sensus Sosial Ekonomi, lihat Lampiran B5 mengenai metodologi. BPS menggunakan Sensus Sosial Ekonomi Dalam kerangka yang secara konsep berbeda tersebut, “rumah tangga-rumah tangga miskin” mencakup mereka yang sangat miskin, miskin, dan mendekati miskin. Dengan memasukkan ketiga kategori ini, tingkat kemiskinan di Aceh mencapai angka 49,85 persen pada tahun 2005 Pengukuran tersebut mencakup rumah tangga yang mendekati miskin, yang mana tidak dimasukkan dalam perkiraan kemiskinan menggunakan Susenas dalam laporan BPS maupun laporan ini. Dengan tidak memasukkan kategori mendekati miskin dan penggunaan Sensus Sosial Ekonomi oleh BPS menghasilkan perkiraan kemiskinan yang sangat serupa di Aceh untuk tahun 2005, yaitu 30,2 persen. Terdapat sejumlah besar penduduk yang termasuk di sekitar garis kemiskinan. Dengan menggunakan survei inti Susenas sebagaimana dalam laporan ini, garis kemiskinan yang sedikit lebih tinggi juga akan menghasilkan tingkat kemiskinan yang jauh lebih tinggi seperti yangdiperkirakan oleh BPS dengan  menggunakan Sensus Sosial ekonomi.






































































































































































































































Minggu, 09 Oktober 2011

1.6 Masa Depan perspektif
Kita mendefinisikan keuangan mikro sebagai penyediaan layanan keuangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah yang seharusnya dapat dikeluarkan dari sistem keuangan formal,Saya berharap bahwa ini definisi akan menjadi usang sesegera mungkin setelah komersialisasi penyediaan layanan semacam ini dan masuknya mereka ke dalam keuangan formal system1 Dengan itu keuangan mikro waktu, mengakses sumber daya yang terbatas tersedia dipasar modal, akan mencapai lebih banyak klien dan mudah-mudahan akan mengisi sekarang kesenjangan antara pasokan dan permintaan. Risiko memperoleh tujuan ini banyak tetapi ada banyak alasan untuk berharap Yang paling penting adalah bukti kemajuan yang industri, pada kecepatan meningkat, yang dibuat dalam 30 tahun terakhir.
1.5 Keuangan keberlanjutan
Untuk menjalankan usaha, lembaga keuangan dan pada umumnya semua perusahaan, perlu diperlukan dana. Ini dapat muncul dalam beberapa cara berbeda: mereka dapat menerbitkan saham (apa yang secara teknisdisebut ekuitas) atau akses apa yang disebut pembiayaan utang yang biasanya dalam bentuk obligasi dan pinjaman dari lembaga keuangan lainnya,bank dapat kemudian mengumpulkan tabungan dari klien mereka. Sumber daya tambahan dapat berasal dari sumbangan,hibah atau pinjaman lunak (kredit di bawah harga pasar)Kepentingan relatif dari berbagai sumber berbeda antara keuangan yang berbeda lembaga. LSM keuangan biasanya bergantung pada subsidi donor dan tidak diizinkan untuk mengumpulkan  

tabungan,sementara bank-bank komersial mengandalkan sumber dana mereka sendiri, depositodari klien (tabungan) dan modal ekuitas. Mengumpulkan tabungan umumnya dilarang untuk LSM sebagai lisensi perbankan khusus diperlukan dalam rangka untuk melindungi penabung dalam kasus standar lembaga. Saat ini, sumber utama dana untuk LKM amal,pemerintah dan organisasi internasional. Kebanyakan LKM sangat bergantung pada dukungan donor dan tidak layak finansial,Keberlanjutan keuangan adalah kemampuan penyedia keuangan mikro untuk menutupi semua nya biaya atas dasar disubsidi. Menurut keberlanjutan PBB
diperlukan untuk mencapai sejumlah besar orang secara berkelanjutan. Jika LKM tetap bergantung pada pendanaan donor yang terbatas, mereka akan dapat mencapai hanya jumlah terbatas orang,Keberlanjutan keuangan bukanlah tujuan itu sendiri, tetapi satu-satunya cara untuk mencapai signifikan skala.
Untuk menganalisis keberlanjutan LKM satu set rasio telah dikembangkan ini secara luas diterima dan mereka memungkinkan perbandingan antara LKM di seluruh dunia,para dua yang paling penting adalah Diri Kecukupan Operasional (OSS) dan Self Keuangan Kecukupan (FSS). Mereka akan dianalisis secara mendalam dalam sesi 7 Kebanyakan, jika tidak semua, LKM menerima sumbangan, pinjaman lunak, layanan di bawah harga pasar atau bentuk lain dari subsidi. FSS adalah ad-hoc indikator untuk analisis keuangan mikro yangkecukupan diri-keuangan LKM setelah semua penyesuaian yang diperlukan untuk memperhitungkan semua sumber daya atas dasar harga pasar,Komitmen institusi terhadap hal ini
Tujuan juga menjadi syarat penting untuk menerima dukungan donor dalam start-up fase atau untuk pengenalan layanan eksperimental dan produk,Mengakses sumber pendanaan komersial maka langkah logis berikutnya para Keberhasilan luar biasa dari lembaga keuangan mikro di seluruh dunia meningkat permintaan untuk modal dan ini adalah mengapa perdebatan tentang apakah LKM harus akses dana komersial dan mengikuti aturan keuntungan saat ini merupakan topik hangat.
1.3 Siapakah klien keuangan mikro
Klien dari keuangan mikro adalah "aktif secara ekonomis miskin" atau orang-orang berpenghasilan rendah yang tidak memiliki akses ke lembaga keuangan formal Klien harus memiliki peluang ekonomi dan keterampilan kewirausahaan sebagai uang yang mereka terima tidak harus digunakan untuk konsumsi, tetapi untuk tujuan produktif. Ini adalah alasan mengapa termiskin dari yang miskin, atau miskin, umumnya dikecualikan dari lingkaran keuangan mikro dan ditargetkan oleh program-program pembangunan lainnya.
 
Pada gambar 1.3 ditunjukkan bahwa klien keuangan mikro paling saat ini sekitar garis kemiskinan Masyarakat miskin ekstrem adalah jarang dicapai oleh keuangan mikro sementara pelayanan keuangan mikro yang tidak sesuai untuk miskin dan mereka lebih baik ditargetkan oleh program-program soSebagian besar program program fokus pada perempuan dan menggunakan tabungan berbasis kelompok dan pinjaman skema Secara umum telah terbukti menjadi pilihan yang baik tetapi lebih baik tidakuntuk tetap pada aturan umum. Setiap metodologi, selain titik-titik kuat dan lemah, harussesuai dengan lingkungan lokal: apa yang berhasil untuk lingkungan pedesaan di Afrikanegara bisa berubah untuk memproduksi hasil yang buruk di lingkungan perkotaan dari Timur Tengah. 
Tapi mengapa kelompok sasaran ini telah dan masih begitu parah dilayani?Jawabannya bahwa
miskin tidak cocok untuk layanan klien tersebut telah dibuktikan palsu. mereka butuh kredit untuk memulai dan menjalankan usaha, tabungan jasa untuk menghindari bentuk-bentuk lain berisiko menyimpan uang yang mereka miliki, asuransi untuk melindungi terhadap risiko.





1.4 Keuangan Mikro dan rentenir
Rentenir adalah pesaing yang lebih langsung dari LKM. Orang-orang miskin, dikecualikan dari
sistem keuangan formal, sebagian besar waktu memiliki satu-satunya alternatif semacam ini informal yang sumber dana. Kepentingan biaya hampir selalu jauh melebihi apa yang dibebankan oleh LKM dan para peminjamnya tidak memiliki jenis perlindungan dari penyalahgunaan perilaku, mis kasar pinjaman atau praktek pinjaman tidak adil koleksi,Setelah aspek-aspek negatif dari rentenir yang disorot adalah penting untuk belajardari fitur positif mereka yang membuat mereka dekat dengan orang miskin dan mampu menanggapi kebutuhan mereka. Fitur tersebut adalah prosedur sederhana, istilah yang jelas, tepat waktu
pencairan dan pinjaman yang didukung oleh karakter peminjam 'daripada agunan, para inovasi keuangan mikro telah menjadi kombinasi fitur ini positif ke dalam lembaga keuangan yang lebih formal.
Pengenalan istilah keuangan mikromengikuti keberhasilan program-program kredit mikro di seluruh dunia dan pada tahun 1997,berkelanjutan melalui penyediaan rangkaian lengkap produk keuangan dan untuk
menjangkau lebih banyak orang.
"Generasi pertama" dari lembaga, terutama LSM, disampaikan hanya kredit di
hampir tiga puluh tahun mulai dari tahun tujuh puluhan. Kebingungan ini ditambahkan ke penggunaan
syarat dan bahkan sampai sekarang masih ada kesulitan yang serius dalam memandang keuangan mikro sebagai satu set produk keuangan yang dapat disampaikan secara berkelanjutan Tapi mengapa ini lembaga hanya memberikan kredit? Mereka beranggapan bahwa orang miskin tidak dapat menyimpan dan bahwa mereka hanya dibutuhkan pinjaman. Namun hal itu terbukti tidak benar; pada tahun 1984 ketika Bank Rakyat Indonesia (BRI), LKM terbesar di dunia (lihat kotak di bawah), ditawarkan rekening tabungan untuk orang miskin yang tidak setoran minimum, itu mencapai luar biasa sukse Pada Desember 2003 divisi mikro BRI tercatat 3,1 jutaan pinjaman rekening dan 29,9 juta rekening tabungan dengan pinjaman rata-rata realisasi
US $ 542 dan rata-rata tabungan saldo per account sebesar US $ 118
selama Microcredit Summit pertama, 2.900 delegasi dari 137 negara yang mewakilisekitar 1.500 organisasi berkumpul di Washington, DC Dalam kesempatan bahwakelahiran industri global keuangan mikro diakui secara resmi. Sejak saat itu fokus mulai berubah dan bergerak dari ide welfaris dominan, di mana hanya pemberian kredit dianggap penting, dengan kebutuhan finansial menjadi 




Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Bank Rakyat Indonesia adalah lembaga keuangan mikro terbesar di dunia. Ini adalah
milik negara bank komersial, dan hanya menerapkan pinjaman individu Meskipun keberhasilan dan ukuran operasinya, BRI tidak dikenal sebagai LKM lainnya di seluruh dunia,Pendekatan yang digunakan oleh BRI memungkinkan bank untuk berhasil menyediakan kredit produk, jasa tabungan dan menjadi mandiri. Bank juga belajarbahwa tingkat bunga tidak menjadi perhatian utama bagi peminjam dan penabung. mereka
terutama membutuhkan produk keuangan yang aman, nyaman dan fleksibel yang disediakan pada
secara berkelanjutan. Bagi orang-orang berpenghasilan rendah, akses ke layanan keuangan seringkali merupakankendala utama. Tingkat bunga tahunan efektif dibebankan oleh bank itu sedikit lebih tinggi dari 30% pada tahun 2003 dan sejalan dengan berkelanjutan lainnya lembaga keuangan mikro di seluruh dunia.
Sebuah lembaga keuangan mikro (LKM) kemudian sebuah lembaga keuangan yang dapat non
organisasi nirlaba, lembaga keuangan resmi atau bank komersial yang menyediakan produk keuangan mikro dan jasa untuk klien berpendapatan rendah atau usaha mikro,para Tujuan dari organisasi ini adalah penyediaan jasa keuangan kepada mereka yang kalau tidak akan dikeluarkan dari sistem keuangan formal.
Definisi usaha mikro bervariasi dari satu negara ke negara tetapi menurut definisi umum yang diberikan oleh ACCION International, sebuah jaringan keuangan mikro institusi (lihat kotak 2.1), usaha mikro adalah "usaha kecil di sektor informal sektor.,Mikro seringkali mempekerjakan kurang dari 5 orang, dapat didasarkan keluar dari rumah dan sering satu-satunya sumber pendapatan keluarga, tetapi juga dapat bertindak sebagai suplemen untuk bentuk-bentuk lain pendapatan. Contoh usaha mikro mencakup kios  kecil, lokakarya menjahit, pertukangan toko dan kios pasar ". 
 
1.2 Kredit Mikro dan keuangan mikro
Penggunaan istilah kredit mikro dan keuangan mikro, terutama untuk alasan historis adalah kadang-kadang salah Kurangnya kejelasan dalam penggunaannya, bahkan di sektor pembangunan adalah alasan mengapa dua gagasan harus jelas dibedakan dari awal.Kredit mikro adalah bagian dari bidang keuangan mikro,Kredit mikro adalah penyediaan layanan kredit untuk pengusaha berpendapatan rendah, sementara keuangan mikro mencakup kredit, tabungan dan jasa keuangan semakin tambahan seperti asuransi dan uang transfer. Bukti menunjukkan bahwa untuk penghematan yang sangat miskin adalah sama pentingnya dengan
pinjaman ini adalah indikasi dari pentingnya keuangan mikro sebagai kombinasi dari berbagai jasa keuangan,Pergeseran terbaru dalam istilah dari kredit mikro keuangan mikro mencerminkan pengakuan bahwa tabungan jasa, dan tidak hanya pinjaman, meningkatkan kesejahteraan miskin dan bersama-sama dengan asuransi, membantu orang miskin untuk menstabilkan pendapatan dan melindungi terhadap risik Transfer uang ini kemudian layanan lain penting: menurut Bank Dunia bisnis pengiriman uang, yaitu uang yang emigran dikirim kepada kerabat, yang tumbuh dengan kuat dan sering dikelola oleh pengaturan informal dengan biaya tinggi dan risiko tinggi. Pelatihan klien, yang disediakan oleh beberapa LKM, diklasifikasikan sebagai layanan non-keuangan dan merupakan alat dari kategori lebih luas dari pembangunan usaha mikro..yang benar definisi keuangan mikro hanya mencakup jasa keuangan dan ini adalah mengapa, bahkan jika sering disediakan oleh LKM, pelatihan tidak diklasifikasikan di bawah istilah keuangan mikro.

Apakah keuangan mikro?

Keuangan mikro adalah;Untuk menanggapi permintaan layanan keuangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah sebagian besar terletak di,negara-negara berkembang,dalam produk baru dan metodologi 70 mulai akan,dikembangkan dalam suatu industri dikenal sebagai keuangan mikro. Di negara berkembang, di mana
layanan yang lebih dibutuhkan, mereka sering berkembang atau bahkan tidak ada. Keuangan Mikro bertujuan untuk mengisi kesenjangan ini dan memberikan akses ke jasa keuangan seperti tabungan, kredit, asuransi dan transfer uang kepada orang-orang yang dinyatakan akan tetap belum terlayani. 
Hal ini umumnya diterima bahwa keuangan mikro adalah alat pengembangan yang kuat ekonomi. Lembaga keuangan mikro (LKM) memberikan layanan keuangan dasar untuk miskin dan rendah pendapatan orang, atau microentrepeneurs, dengan sedikit atau tanpa akses ke keuangan formal sistem. LKM mengembangkan produk-produk tertentu dan metodologi untuk mengatasi kekurangan agunan klien dan karena itu membuat mereka layak untuk mendapatkan pinjaman dan jasa keuangan lainnya,Usaha mikro, atau miskin yang aktif secara ekonomi, adalah bisnis orang-orang yang melalui keuangan mikro memanfaatkan peluang ekonomi yang lain akan tetap tertandingi karena kendala keuangan. Apa yang membuat keuangan mikro berbeda dari yang lain alat anti-kemiskinan adalah ide untuk meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat miskin melalui upaya mereka sendiri. Kredit diberikan untuk mendukung "mikro", yang memungkinkan   berpenghasilan rendah orang-orang untuk merespon peluang ekonomi. Bagi mereka kendala utama adalah kecil,investasi pada modal kerja, dan kredit mikro memungkinkan untuk mengatasi kendala ini.
 
Hal ini penting untuk membuat jelas dari awal pentingnya dan pada saat yang sama batas waktu yang keuangan mikro dan Ini adalah alat pembangunan ekonomi di antara banyak dan saja itu bukan jawaban definitif untuk pengentasan kemiskinan. Efektivitasnya telah diuji dan menunjukkan tetapi harus digunakan bersama dengan alat-alat lain, sedangkan termiskin dari yang miskin, misalnya, membutuhkan bentuk bantuan lain sebelum dapat memanfaatkan pinjaman. Keterbatasan ini memberikan latar belakang yang tepatdi mana keuangan mikro harus ditempatkan sebagai instrumen yang luar biasa kuat terhadap bagian tertentu kemiskinan.

1.1 Kredit Mikro
Sebuah kredit mikro adalah kredit kecil yang diberikan kepada klien oleh suatu bank atau lembaga lain.
Kredit mikro dapat ditawarkan, seringkali tanpa agunan, untuk individu atau melalui kelompok pinjaman. Pinjaman kelompok adalah mekanisme yang memungkinkan sejumlah individu untuk mendapatkan pinjaman melalui skema kelompok

Hasil penjualan kerupuk Udang...

modal;
1.kerupruk yang belum tergoreng = Rp 6.000
2.minyak goreng                          = Rp 2.000
3.plastik 1 ons                             = Rp 1.000

 totalnya                                     ; Rp 9.000

-plastik 1 ons,dengan kerupuk 1 plastik yang belum tergoreng bisa menghasilkan 50 bungkus yang sudah tergoreng,dan  1 bungkus saya jual dengan harga Rp 1.000
 
-Hari pertama;terjual 20 bungkus dari 50bungkus dan saya mendapatkan uang sebesar Rp 20.000
dan saya jualkan di kawasan kosan saya

-Hari kedua;terjualnya 45 bungkus, saya jual di kawasan anak-anak ngaji TPA lingke,di kampus,dan saya mendapatkan uang sebesar Rp.45.000

-Hari ketiga;terjualnya 22 bungkus,saya jual di kawasan kampus,dan kawasan kos,dan memperoleh uang sebesar Rp 22.000

-Hari keempat;terjualnya 100 bungkus,dan terjualnya karena saya letakkan di tempat warong nasi,dengan jangka waktu 3 hari,dan saya mendapatkan uang sebesar Rp.80.000,kerena 20.000 untuk orang punya warongnya,sebab 1 kerupuk yang harganya Rp.1.000 di potong  dengan harga Rp.2.00 rupiah,sisanya Rp 8.00 rupiah untuk saya,makanya kerpuk 100 bungkus,untuk saya Rp.80.000
Rp.100.000- Rp20.000=Rp 80.000 


perhitungan; hari pertama   Rp  20.000
                   hari kedua      Rp  45.000
                   hari ketiga      Rp  22.000
                   hari keempat  Rp  80.000


totalnya kotor                   Rp.167.000
kurang modal                    Rp    9.000
total bersih                        Rp 158.000
                                        inilah hasil penjualan saya.....





























Minggu, 18 September 2011

Artikel tentang kemiskinan dari,www.smeindonesia.com?

KEBANYAKAN MASYARAKAT PERSISI;MASIH HIDUP DALAM KEMISKINAN
   Indonesia merupakan negara yang memiliki pantai dan laut yang terbesar di dunia,namun,masyarakat persisirnya kebanyakan masih hidup dalam kemiskinan,mereka kekurangan rumah,makanan,pendidikan dan kesehatan,oleh karena itu,di perlukan upaya meningkatkan pemberdayaan,masyarakat persisir salah satunya melalui hukum/ kebijakan pemerintah yang mempertimbangkan budaya dan nilai-nilai yang dianut masyarakat.Dr.hindaro juga mengatakan,bahwa pemerintah sebenarnya telah melakukan kebijakan mengurangi kemiskinan bagi masyarakat,salah satunya melakukan kerja sama dengan perusahaan Bank,dan pelaksana kerja sama diwujudkan dalam program pinjaman,dan mendirikan usaha kecil sederhana.
namun dalam permasalahan ini,hukum dalam kebijakan pemerintah/peraturan perundangan,seharusnya mampu mengatakan pembangunan untuk menciptakan kesejahteraan bangsa,misalnya diwujudkan dalam peraturan nasional,maupun daerah yang persetujuan untuk memperdayakan masyarakat persisir,jadi dalam menentukan peraturan tersebut dalam  pemaparan mukti,seharusnya ada pertimbangan dasar,misanya melihat budaya dan nilai-nilainya.

Sabtu, 17 September 2011

bentuk kemiskinan di lingkungan sekitar?


  1. bentuk kemiskinan seorang ibu pergi kesawah demi masa depan anak dan kebutuhan hidupnya.
seorang ibu yang pergi kesawah membanting tulang untuk mencari makan anaknya tersayang,karena ayahnya telah meninggal dunia,saat ini ibunya selalu pergi kesawah dalam terik matahari sampai kulitnyapun  hitam dan harus manahan perih karena sinar matahari,ini dilakukan oleh ibu untuk memperjuangkan agar anaknya bisa pergi kesekolah/menuntut ilmu supaya anaknya menjadi seorang anak yang sukses dan handal.

  ibunya selalu memperjuangkan untuk pergi kesawah dalam keadaan apapun walaupun sakit, anaknyapun tidak bisa membantu,karena masih sangat kecil.Alangkah sedihnya lagi, mereka tinggal dirumah yang sangat sederhana,bentuk rumahnya tidak permanen,ketika hujan mereka harus selalu menampung air hujan didalam rumahnya,akibat terjadi kebocoran di atas atap rumah,inilah bentuk kemiskinan yang begitu sedih,ketika seorang ibu harus memperjuangkah pergi kesawah dalam keadaan apapun,sehat,lapar,maupun sakit,inilah yang dilakukan ibu supaya memenuhi kebutuhan hidupnya dan masa depan seorang anak,supaya menjadi anak yang berhasil dan sukses.
   
 2.bentuk kemiskinan seorang anak harus mencari uang sendiri karena orangtuanya telah meninggal.

seorang anak yang sejak kecil harus mencari uang sendiri,karena sudah meninggal ayahnya ketika ia masih 6 bulan dalam kandungan ibunya,namun setelah ia sekolah SD kelas 2.ibunya tersayang telah meninggalkan dunia,krn ALLAH telah memanggilnya,dan setelah kedua orangtuanya pergi meninggalkan dia selamanya,ia tinggal bersama kakek dan neneknya,seorang neneknyapun,tidak punya apa-apa,dan sudah tidak mampu berkerja lagi,dan mereka tinggal dirumah yang begitu sederhana,bentuk rumahnyapun tidak permanen,dan si anak berusaha mencari uang sendiri untuk makan dan biaya sekolahnya,krn kakeknya,tidak sanggup mencari rezki lagi,si anak mencari uang dengan cara mencari gelas-gelas bekas lalu menjualnya perkilo,Alangkah sedih nasibnya...
inilah bentuk kemiskinan seorang anak yang tidak punya orangtuanya, berusaha harus mencari uang untuk makan,dan mempertahankan sekolahnya,dengan cara mencari gelas yang bekas,lalu dijualkan.